Di Rumpun Dialektis: Bedah Buku “Dunia Yang Dilipat,” Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.
Di Rumpun Dialektis: Bedah Buku “Dunia Yang Dilipat,” Tamasya
Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.
Oleh: Muhammad Alan Putra Irawan
“Assalamualaikum,”
salam Reza Tamimy menandakan kegiatan diskusi ilmiah akan dimulai, kali ini
Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM) mengadakan Bedah Buku “Dunia Yang
Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan.” Di atas rumput yang mulai
rumpun, tepat di taman kampus II Universitas Muhammadiyah Surakarta, tikar
digelar disana guna meluang tempat peserta diskusi ilmiah yang diadakan pada
kamis (23/10/15).
“Teori nya siapa, yang mengatakan
bahwa khalayak konsumen media aktif,” Tanya reza terhadap peserta diskusi.
“Teori uses and gratifications, teori
itu mengatakan bahwa khalayak media bisa berhak secara aktif menentukan pilihan
nya sendiri.” Jawab Ardita dengan sigap. “teori itu telah diruntuhkan oleh
teorinya Jean Baudrillard bahwa
khalayak menjadi menjadi pasif,” bantah reza yang berbusana sederhana itu.
Teori tersebut menjelaskan, penaklukan ruang atau pelipatan ruang oleh
kapitalis yang hampir mendekati titik nol,
telah mengalihkan perhatian konsumen
ke dalam ekstasi konsumerisme dan komunikasi,
“Kita disini sudah dihadapkan dengan
budaya komoditas, dimana kapitalisme membuat pesan-pesan media massa dibawanya
kearah masyarakat komsumtif,” Tegas reza dalam menyampaikan makalah hasil
analisa dirinya yang berjudul Menelaah
buku “Dunia yang dilipat, Tamasya melampaui batas-batas kebudayaan,” karya
Yasraf Amir Piliang.
Kapitalisme telah menjadi bahasan
khusus yang semakin menarik untuk didiskusikan, Para filosof kritis dari jerman
seperti Karl Marx mencoba menjelaskan
bagaimana kapitalisme menjajah para kaum bawah, sistem dibawanya ke arah
kepentingan kapital yang sedang berkuasa, termasuk juga media massa dijadikan
alat kapital dalam menyebarkan bahkan mempengaruhi masyarakat bawah. seperti
yang dikatakan Noam Chomsky, pemikir
kritis dari Amerika bahwa media massa telah menjadi “alat propaganda Bisnis.”
“Apakah kapitalisme itu selalu
dikatakan negatif,” Tanya Dini salah satu peserta bedah buku. “Ada positif dan
negatifnya, tergantung bagaimana sisi kemanfaatan terhadap masyarakat” jawab
Reza. Pertanyaan kembali dikeluarkan beberapa peserta mengenai “kapitalisme”
sendiri.
Ditanya tentang relasi kapitalisme
dengan media massa, Reza menjelaskan “kapitalisme membuat media massa semakin
akut dengan produk-produk dari kepentingan kapital, sehingga masyarakat menjadi
objek yang diserang akan sikap pembelian atau kesukaan terhadap produk tertentu
yang ditayangkan melalui televisi”. Lantang dijawab dengan segenap
keyakinannya.
Diskusi berlangsung aktif, dialektis
dan kritis, bertubi pertanyaan dilambungkan demi mencari jawaban dialogis.
Lintas ilmu lalu-lalang menjera pikiran peserta, sebagai mahasiswa disiplin
Ilmu Komunikasi, dituntut dapat secara kritis mengkaji ilmu-ilmu yang berkaitan
dengannya, kajian kritis menjadi pendorong mahasiswa untuk berpikir hingga
mendekonstruksi apa yang dipikir sebelumnya. Dengan itu mampu memberikan
paradigma kritis memandang struktur sosial dalam kaitannya instrumen media massa
yang semakin menerpa membangun generasi masyarakat modern yang semakin tunduk
dengan kepentingan media.
yeeee.. ada namakuuu :)
BalasHapuslebih bagus lagi kalo ada fotonya mas, biar lebih 'bercerita', "visual speaks louder than words" - ujar MMT di salah satu sudut kota budaya
Iyap btul, makasih.. Saran baik
HapusKeren, Lan! Keep it up, kawan ;)
BalasHapusSiap. Mkasih yog,
Hapus