KAJIAN LITERASI KOMUNIKASI
KOMODIFIKASI & TAKTIK MEDIA
Globalisasi yang tengah melanda
media tanah air, menghantarkan ruang menjadi subjek kepentingan para korporat,
yang pada dasarnya dengan menarik kedaulatan Negara dan komunikasi lokal
menjadi tunduk pada arus global. Dimana dalam teori Ekonomi politik media dikemukakan bahwa ekonomi menjadi basis
ideologi dan politik. Terkonsentrasinya kepemilikan media tanah air menjadikan
arus informasi terpusat pada kalangan tertentu, demi alih publik menjadi
prifat. Tak lagi kepentingan masyarakat namun kepentingan kelompok. Yang
biasanya dianggap surga untuk tangan – tangan kapital.
Vincent mosco (2009) mendefinisikan
komodifikasi sebagai proses mengubah barang dan jasa, yang dinilai karena
kegunaannya, menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang mereka berikan
kepada kebutuhan pasar. Dalam artian khusus merubah nilai guna menjadi nilai
tukar,
keuntungan. Begitu juga karl marx menemukan bahwa komoditas telah menjadi bentuk paling jelas, representasi paling eksplisit, dari produksi kapitalis. Bagi marx komoditas berasal dari rentang luasnya kebutuhan, baik fisik maupun budaya “Dari perut atau imajinasi tak ada perbedaan” yang dapat ditempuh dengan segala cara. Termasuk juga menggeser norma tertentu yang berlaku di pers indonesia.
keuntungan. Begitu juga karl marx menemukan bahwa komoditas telah menjadi bentuk paling jelas, representasi paling eksplisit, dari produksi kapitalis. Bagi marx komoditas berasal dari rentang luasnya kebutuhan, baik fisik maupun budaya “Dari perut atau imajinasi tak ada perbedaan” yang dapat ditempuh dengan segala cara. Termasuk juga menggeser norma tertentu yang berlaku di pers indonesia.
pasca reformasi menjadikan mulai bermunculan media
tanah air, Tidak lagi pembredelan pemerintah terhadap media, namun sebaliknya.
kenapa demikian kebebasan dan kemerdekaan yang melanda pers negeri ini,
disalahartikan menjadi ruang bebas oleh hak dan kepentingan para pemilik media,
tidak untuk kebebasan konten untuk kepentingan masyarakat. Abad ini tengah
semakin menguatkan orientasi pada bisnis. Globalisasi media tengah membuat
media nasional bias identitas. Ruang ruang media dipenuhi dengan subjek kontra-nasionalis,
kontra-demokratis. Mereka sadar, namun dengan adanya alih kebutuhan pasar,
internasionalisasi nilai - nilai media dirasa butuh untuk meningkatkan rating
dan pemasukan media, dengan merujuk pada trend barat. Dengan adanya hal itu
generasi anak – anak menjadi korban konsensus yang dikendalikan penuh oleh
media. Menatap layar televisi namun hatinya buta akan kesadaran dirinya sebagai
manusia aktif, berbangsa dan berbudaya.
Dengan adanya tuntutan pasar,
maraknya amerikanisasi perfilman tanah air memunculkan gaya baru dan kehidupan
baru bagi generasi yang akan datang. Konten tidak lagi bersumber pada kebutuhan
masyarakat, bangsa dan Negara, namun pada kebutuhan pasar guna belanja iklan
dengan sebanyak – banyaknya. Rating menjadi unsur utama dalam model persaingan
berbagai media massa saat ini. Tak jarang para jurnalis menjual jasa untuk
menuruti kemauan para pemilik media yang berorientasi pada kepentingan bisnis.
Dengan demikian, memunculkan komodifikasi isi, tenaga
kerja maupun komodifikasi nilai budaya dan agama. Konten yang biasanya di
tampilkan di media televisi di Indonesia adalah kepadatan tampilan yaitu
termasuk juga menggunakan budaya sebagai objek yang menjual, dengan tayangan –
tayangan sinetron atau model iklan yang memainkan bentuk budaya sebagai materi
isi yang dianggap menarik untuk ditampilkan. Begitu juga nilai agama dirasa
menarik untuk di komodifikasi, termasuk penggunaan ahli agama untuk menawarkan
produk – produk barang, yang biasanya ramai ialah pada waktu hari – hari besar
agama.
Komodifikasi Budaya dan Agama
Pemanfaatan
budaya dan agama tradisional sebagai kebutuhan pengiklan menjadi bukti
komodifikasi bermain pada media global saat ini. Sehingga mengalihkan esensi
nilai budaya dan agama menjadi nilai tukar untuk kepentingan media dan
perusahaan.
Tidak hanya itu, globalisasi media tanah air
menjadikan konten semakin rumit dimengerti, Heterogenitas budaya berseliweran
tampil mengisi penuh berbagai media televisi di Indonesia, dan menjadikan
generasi baru warga pribumi ini menjadi bias identitas, mereka setiap hari
dipertontonkan beragam acara atau tayangan iklan dengan makna yang berbeda
pula, Acara – acara dikemas dengan degan sebaik mungkin untuk menaikkan rating
demi kebutuhan pasar. dengan adanya globalisasi media sehingga muncul konten
media yang menggeser budaya lokal dan memberi kesempatan luas bagi penetrasi
budaya global. Pada saat itu pula masyarakat pribumi termasuk anak – anak mulai
ditanamkan nilai – nilai baru seperti liberalisme, konsumerisme dan hedonisme,
dimana dominasi arus informasi pada kepentingan kapital yang menjadikan budaya
barat menjadi nilai yang perlu dimasukkan untuk merepresentasikan kebutuhan
masyarakat global. Sehingga menjadikan warga Negara bias identitas, atau bahkan
mengalami hibridisasi identitas karena hasil terpaan konten media yang semakin
beragam.
Dengan adanya berbagai cara yang dilakukan oleh media
tersebut demi menjadikan nilai tukar, akan Memunculkan generasi baru yang bias
nasionalis, atau bahkan kontra-lokalitas budaya indonesia. Karena dengan adanya
tuntutan pasar akan mengaburkan pandangan pemilik media pada nilai–nilai lokal
dan memberi jembatan bagi imperialisme budaya, nilai agama, gaya hidup melalui
hiburan yang ditawarkan media. Kita amat berada pada generasi Sesak Media dimana setiap waktu selalu
dihadapkan dengan terpaan media massa, dan khalayak dianggap sebagai objek atau
korban untuk mendengarkan suara industri media untuk kepentingan bisnis dan
penopang kekuasaan.
Sebuah Alternatif
Kita bisa melihat seorang aktifis yang
dikenal sebagai pembangkang terbesar media Amerika serikat yaitu Noam Chomsky. dia
selalu bersikap kritis terhadap media AS, yang hingga kini masih bergema
menjadi kritikus yang radikal. Yang disebutnya media AS sebagai mesin
propaganda bisnis dan kekuasaan. Kita bisa melihat kegigihannya yang dapat kita
renungkan untuk selalu bersikap kritis terhadap media di tanah air. Bukan untuk
menjatuhkan namun untuk meluruskan media sebagai institusi masyarakat yang
lahir dari proses perjuangan yang amat panjang.
Begitu juga Dalam hal ini penulis mencoba menawarkan
sebuah media alternatif, tidak memakai industri media lagi, namun media – media
kecil non-komersil yang dapat menjadi ruang yang memadai bagi kita untuk
menampung suara – suara masyarakat bawah. Media tersebut seperti media komunitas seperti TV komunitas atau
radio komunitas, media etnis seperti penerbitan-penerbitan kelompok etnis
minoritas, media subkultur seperti penerbitan kaum gerakan punk, media
progresif termasuk bulletin atau selebaran pesan-pesan dan perlawanan, media
seluler, media sosial atau bahkan media bawah-tanah, Underground media seperti
suara independen yang diterbitkan
oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI).
Walaupun posisi nya tidak sekuat
media besar Arus-utama, media alternatif sebagai media partisipatif setidaknya
dapat menjadi ruang tersendiri untuk memunculkan suara demokrasi dari
masyarakat bawah, kaum termarjinalkan atau khalayak aktif sebagai ilmuwan atau
cendekiawan dan Tidak lagi sebagai penopang Status
Quo. Dengan adanya kelompok kecil yang menangani media alternatif akan
menguatkan peran masyarakat dalam tatanan sosial politik dan menjaga nilai
nasionalis yang diemban sebagai identitas Negara.
Sumber:
Ibrahim, Idi Subandy dan
Bachrudin Ali. 2014. Komunikasi dan
Komodifikasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Komentar
Posting Komentar